Wednesday, February 1, 2012

Nurul Qolbi

Unintentionally, I hurt someone I love today. Sometimes, what you wrote might implies a different meaning to the person who is reading it.

I felt so bad. Really bad. Thinking hard on how could I make up to it and apologize. Worry.

But. Come to think of it, why don't this feeling of guilty and sorry do not come so easily when I hurt the ONE I love the most?

Why won't I felt this much of regret and despair when I am 'hurting' Allah?

My heart is slammed so hard. Tears filling up the edge of my eyes. I should have been more 'careful' with my actions so as not to hurt the One I love the most.

I should worry more of hurting Allah than any of His slaves.

To think that no matter how much and how many times I 'hurt' Allah, He is always there for me. It is just so comforting. A feeling of security. Loved.

This is the greatest love of all. Endless love. Bountiful Mercy. He is the Most Gracious & The Most Merciful.

Time for muhasabah. Time for repentence. Alhamdulillah, Allah has a very unique way of reminding His slave. Thank you, Allah.


Sunday, January 15, 2012

My Biggest Wish..

May Allah grant this wish..




Saturday, January 14, 2012

Wednesday, January 11, 2012

Lebih dari air yang sejuk..

"Ya Allah, kurniakan kepadaku cinta-Mu..
dan cinta hamba-Mu yang juga cinta kepada-Mu..
dan cinta orang yang mencintai orang yang hampir kepada-Mu...
Dan jadikan cintaku pada-Mu Ya Allah..
terlebih aku cintai daripada air yang sejuk di saat ku kehausan.."



Wednesday, January 4, 2012

Hakikat hamba

Usai membaca sambungan entri daripada UHAJ melahirkan rasa sebak di hati.

Sebak mengetahui perjalanan hidup ustaz yang tak tersangka. Kerapkali menghadiri ceramah program UHAJ tetapi tidak pernah terlintas UHAJ ada pengalaman yang sebegitu.

Namun, lebih sebak dari ibrah entri tersebut yang mengingatkan diri ini semula tentang hakikat diri sebagai hamba-Nya.

Saat ujian hadir dan semangat dicarik perlahan dari jiwa yang lemah, persoalan mengapa diri ini mendapat ujian sebegitu sering hadir dalam hati.

Mengapa semakin hati ini cuba dekat pada-Nya, semakin kuat ujian pergolakan hati dan kelunturan semangat yang melanda.

Bukankah jiwa akan lebih kuat pabila hati banyak mengingati dan bermunajat pada-Nya?
Tetapi mengapa masih hati rasa lemah dan seolah tercungap-cungap mencari cebisan kekuatan dan kesabaran dari-Nya agar keyakinan terhadap pertolongan Allah pasti akan tiba?

Seolah-olah mempersoalkan mengapa masih hati ini tidak kebal dari resah gelisah sedangkan Allah itu tidak akan pernah membebankan hamba-Nya ke atas sesuatu yang tidak termampu olehnya.

Tertanya-tanya sejauh dan sebanyak mana taubat yang perlu dilakukan atas khilaf dosa yang tidak putus-putus sebelum 'sakinah' itu hadir dalam hati sepanjang masa.

Hati ini lupa. Bukankah Allah itu lebih mengetahui apa yang diperlukan hambaNya?

Andai dibiar jiwa sentiasa tenang dan gembira, hati itu mungkin akan hanyut dan lupa pergantungan harap pada-Nya.

Hamba itu mungkin tidak lagi bermunajat bertemu Tuhan-Nya setiap malam bagi mengharapkan kekuatan & kesabaran dari-Nya..

Hamba itu mungkin akhirnya makin menjauh dari pencipta-Nya dan tidak lagi mencetus rindu mendengar rintihan taubat seorang hamba kepada Ilah-Nya.

Mungkin hamba terlupa diri ini hamba. Jika Allah ingin menguji, siapa kita untuk mengatakan aku tidak diseharusnya diuji?

Jika Allah ingin uji dengan perasaan yang lemah dan semangat yang pudar, siapa kita untuk menolak dan memilih ujian yang lebih mudah?

Diri minta diuji agar dapat meninggikan darjat di sisi-Nya, tetapi tatkala diuji, hati pula mempersoalkan bentuk ujian yang diterima. 'Hamba' kah begitu??


“Jangan pula engkau mendakwa dirimu seorang Nabi, yakni tidak kira setinggi mana engkau berusaha mencapai Taqwa dan pembaikan diri, jangan sesekali engkau merasakan dirimu tidak bersalah dan tidak berdosa. Sesungguhnya yang bersih dan terpelihara daripada dosa itu hanyalah seorang Nabi yang maksum."

"Harapan yang tinggi mesti disertakan dengan sifat kehambaan.Jangan harapan itu menimbulkan rasa kecewa apabila ia tidak kesampaian, hingga kita terlupa kita hanyalah hamba. Hamba yang boleh berharap, namun segalanya pulang kepada kehendak Tuhan."


Kembalilah kepada realiti diri. Status hamba membuatkan kita tidak layak mempersoalkan bentuk ujian yang ingin ditimpakan.

Maka hati, bersabarlah dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar..

Jangan dilupa, hakikatnya dirimu juga Abdullah.

"...Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai-Mu walau aku bermaksiat kepada-Mu..

Ya Allah, aku bukanlah hamba yang lepas dari berbuat dosa..

Maka, aku memohon keampunan daripada-Mu...

Ya Allah, dan bukanlah aku dari kalangan yang kuat beribadah..

Maka, aku memohon kekuatan daripada-Mu..

Ya Allah, hati ini juga tidak sekuat yang kuharapkan..

Maka, aku memohon dikurniakan kesabaran daripada-Mu...

Dan tiadalah bantuan & kekuatan melainkan pertolongan daripada-Mu Ya Allah..."